Rabu, 14 Mei 2014

MAAFKAN AKU PART 3

Tak terasa 1 bulan sudah kami menjalin hubungan. Layaknya hubungan yang lainnya, perjalanan kami pun tak semulus yang kami dambakan. Hari ini, tepat 3 hari dimana Nada tidak memberikanku kabar sama sekali. Jangankan untuk telepon ataupun sms, untuk sekedar misscall saja tak pernah. Diriku sendiri juga tidak tahu dengan jelas apa alasan Nada untuk membenciku. Yang kutahu, ia begitu marah besar padaku sebelum aku sempat mengerti apa yang terjadi.
3 hari kemudian, di hari Sabtu. Hari dimana telah 6 hari sudah kami tak berkomunikasi sedikitpun. Dan di hari ini pula, aku putuskan untuk pergi ke rumahnya. Harapanku saat ini hanyalah agar Nada sudah tak marah lagi padaku. Namun rasanya harapanku belum terkabul.
“Ting…Tong..!!!” suara bel rumah Nada.
Tak lama, nampaklah sosok Nada dari balik pintu.
“Ngapain kamu kesini?” tanyanya sinis.
“Ada apa sih yang? Kok cemberut begitu? Nanti cantiknya hilang lo” usahaku untuk menghiburnya. Meskipun kutahu, itu hanya berpeluang kecil untuk dapat membuatnya tersenyum kembali saat ini.
“Halah, udah deh. Gak usah pura-pura gak tahu” jawabnya dengan ketus.
“Kamu kenapa sih yang? Emang aku salah apa?” tanyaku penasaran dengan kesalahanku.
Kucoba dekati tubuhnya dan kugenggam tangannya.
“Halaaahhh!!!” ia melepaskan tangannya dari genggamanku.
“Aku baru tahu ya, kalau ternyata kamu itu lemah. Gak sekuat yang aku bayangin selama ini. Kamu lebih suka menulis cerpen di dalam kamar kayak anak cewek daripada harus olah raga futsal / basket seperti cowok lain seusiamu. A, Aku kecewa sama kamu Wan, kamu udah rusak kepercayaanku.” Tangis Nada pun tak terbendung lagi.
Coba kukejar dirinya, namun ia begitu cepat menghilang masuk ke dalam rumah. Kini, hanya penyesalan yang dapat kulakukan. Baru kali ini kulihat Nada sesedih dan semarah ini, dan itu semua gara-gara aku. Entah apa hukuman yang cocok bagiku. Aku merasa telah menyakiti hati seorang wanita yang aku cintai. Memang benar kata Nada, Aku telah membuatnya kecewa.
Kepulanganku diiringi dengan penyesalan yang amat besar, semua kata-kata Nada begitu menancap dalam fikiranku. Membuatku terfokus hanya pada kesalahanku, hingga nyaris saja aku menabrak pengguna jalan yang lain.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar tidurku. Kurebahkan tubuhku, mencoba untuk menenangkan fikiran.
“Ya sudahlah, wajar kalau dalam hubungan pasti ada keretakan.” Kata hatiku coba menghibur.
Tak lama berselang, tiba-tiba suara yang tak asing mengagetkanku.
“Tingg!!!” suara nyaring HP ku berbunyi tanda bahwa ada sms masuk.
Dengan sedikit rasa penasaran, kutengok Hpku yang tadi juga berbaring di atas kasur. Dan ternyata itu adalah sms dari Nada. Seketika jantungku dibuat berhenti berdetak, ketika kulihat sms dari Nada yang berisikan bahwa ia ingin mengakhiri hubungan ini. Betapa hancurnya hatiku, membaca sms darinya. Hati yang baru saja sedikit terhibur, kini harus kembali merasakan pahitnya cinta. Dan entah kenapa, tiba-tiba kepalaku mendadak pusing. Seakan langit-langit berguncang tak tentu arah. Jantung terasa berhenti untuk berdetak. Aku tak tahu, harus bagaimana. Aku merasa sangat lemah.
Dan akhirnya, final sudah bagiku. Perlahan demi perlahan, pandanganku kabur dan semakin gelap. Segalanya jadi semakin buruk, ketika nafasku mulai tersengal-sengal. Aku telah pasrah. Jika memang ini adalah takdirku, aku akan menerimanya. Hingga akhirnya, aku pingsan dengan tubuh terbujur di lantai kamar.
Ketika terbangun, aku sudah berada di rumah sakit. Tubuhku dipenuhi oleh alat medis. Berbagai selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya telah berserakan di samping dan di atas tubuhku. Dengan kepala yang masih sedikit pusing, kucoba menengok sebelah kanan dan kiri mencari kedua orangtuaku. Dan saat itulah kutahu, bahwa aku masuk ruang ICU. Aku tak tahu seberapa parah penyakitku, hingga aku masuk ke ruangan ini. Yang kutahu, kedua orangtuaku hanya bisa berharap-harap cemas di balik kaca jendela.
Tiga hari telah berlalu, badanku masih terbaring di tempat yang sama. Berbagai macam pengobatan serta pemeriksaan, telah berulang kali kujalani. Dan akhirnya, dokter menyatakan kondisiku sudah membaik dan dapat dirawat di kamar biasa.
“Akhirnya Ya Allah, Engkau telah datangkan kabar baik bagiku” kataku dalam hati.
Ruang Bougenville 3. Itulah tempat peristirahatanku selanjutnya. Tentunya hatiku sangat senang. Karena tak harus dipenuhi berbagai alat medis yang membuatku sangat tak nyaman. Apalagi, sekitar setengah jam lagi jam besuk telah berlaku. Kedatangan Ayah dan Ibu beserta adikku tercinta nyaris menyempurnakan kebahagiaanku pada hari ini. Namun sayang, orang tercintaku tak ada disini. Seandainya saja Nada juga berada di sisiku saat ini, mungkin itu akan membuat kebahagiaanku sempurna. Tapi apalah mau dikata, rasanya hal itu sangat mustahil bagiku. Hanya bersyukur dan merasa cukup yang bisa kulakukan saat ini.
“Bagaimana kabarmu Nak?” tanya Ibu ramah.
“Baik bu” jawabku sambil menyodorkan senyum.
“Syukurlah kalau kamu sudah baikan” tambah Ayah.
“Memangnya aku sakit apa sih yah?”
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Wajah Ayah dan Ibu yang tadi mulai ceria kini kembali menunjukkan raut kesedihan. Aku tak tahu, apa yang sedang mereka cemaskan. Atau mungkin ada yang salah dari perkataanku? Aku menjadi bingung melihat sikap mereka. Terutama Tanti, raut kesedihan sudah tak dapat ditutupi lagi. Mata Adik dan Ibu dibanjiri oleh air mata. Sosok Ayah yang biasanya tegas dan tegar, kini sudah lenyap ditelan bumi.
“Begini Mad. Jadi, jadi sebenarnya…” kata Ayah dengan tebata-bata.
“…sebenarnya sejak kecil kamu” Ayah tak mampu lagi melanjutkan penjelasannya. Air mata yang mulai tadi tertahan, menetes terlalu cepat.
Aku sangat sedih melihat mereka, namun di sisi lain aku juga sangat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Sejak kecil aku kenapa yah? Jawab yah! Jawaab!!!” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
“Sejak kecil kamu, kamu memiliki jantung yang lemah Mad” jawab Ayah.
“Jadi selama ini aku tidak bisa bermain bola, tak hebat dalam basket, dan tak bisa sekuat teman-temanku yang lain, karena aku memiliki jantung yang lemah? Iya yah?” tanyaku tak percaya.
Beliau hanya tertunduk, tak dapat lagi berucap. Suara tangis seketika terdengar semakin kencang. Kami berempat terlarut dalam kesedihan yang mendalam. Perasaanku begitu hancur mendengarnya. Seakan tak percaya, hati ini coba mengelak. Namun tetap saja terasa amat menyakitkan.
“Ya Allah, rupanya Engkau berikan hambamu cobaan yang cukup berat. Kuatkanlah hati ini Ya Allah” doaku dalam hati.
Masih dalam tangis yang kuat, Ibu memelukku erat. Dengan nafas yang terdengar berat, pelukan beliau terasa semakin waktu semakin kuat. Sebuah pelukan yang mengisyaratkan bahwa Ibu belum rela melihatku seperti ini. Apalagi jika aku harus meninggalkannya dari dunia ini. Tak terbayang, betapa besarnya beban yang harus ditopang hati Ibu. Pasti terasa teriris bila harus kehilangan diriku.
“Maafkan Ibu ya nak. Ibu tidak memberitahumu selama ini. Ibu takut, jika kamu belum bisa menerima kenyataan pahit ini.” Suara Ibu terdengar menyesal.
“Maafkan Ayah juga ya nak. Seharusnya, sejak kecil kamu harus melakukan cangkok jantung. Namun karena Ayah tak punya uang untuk operasi, hingga kini kondisi jantungmu semakin parah” suara Ayah terdengar tak kalah sedih.
“Jadi, selama ini Ayah dan Ibu tidak pernah melarangku dan selalu memanjakanku karena Ibu dan Ayah sudah tahu? Jika umurku sudah tak lama lagi?” tanyaku yang masih belum bisa menerima kenyataan. Aku ingin dokter segera memberitahuku bahwa aku sudah sembuh, meskipun aku tahu itu hanya kebohongan.
Semuanya tertunduk mendengar pertanyaanku. Mereka diam seribu bahasa karena sudah tak dapat menghibur kesedihanku lagi.
“Iya Nak. Kata dokter jika semuanya terus seperti ini, waktumu tinggal…”
“Kenapa dengan diriku Bu? Kenapa!? Ayo jawab Bu!!” air mataku terus berlinang, mencoba menerka kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Keadaan terasa semakin buruk dan tak henti-hentinya memburuk.
“…waktumu tinggal satu minggu lagi Nak” lanjut Ibu.
“Enggak Bu, Ibu gak mau kan kehilangan aku? Ibu cuma bohong kan? Ayo bu! Jawab aku, jawab!” hatiku terasa tertusuk semakin dalam. Tak kuat lagi rasanya aku merasakan semua ini. Ingin rasanya diriku segera pergi dengan tenang di alam sana tanpa harus mengetahui kematianku seperti saat ini.
Tak terasa, satu jam waktu telah berlalu. Jam jenguk yang terbatas, ditambah dengan matahari yang semakin condong ke ufuk barat. Pertanda bahwa sudah saatnya bagi orangtua serta adikku untuk kembali pulang ke rumah. Kata pepatah, ada pertemuan pastilah ada perpisahan. Dan mungkin inilah yang dinamakan perpisahan untuk terakhir kalinya. Perpisahan dimana mungkin esok aku tak dapat melihat mereka lagi. Meskipun vonis dokter masih seminggu lagi, namun aku yakin segala kemungkinan masih bisa terjadi. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun, aku sudah pasrah akan semuanya.
“Ibu pulang dulu ya nak, istirahat yang banyak ya” kata Ibu ketika semuanya telah siap untuk meninggalkanku.
“Tunggu Bu! Sebelum Ibu pergi, bisakan aku minta sesuatu? Aku ingin Ibu bawakan handphone dan buku cerpenku lengkap dengan alat tulisnya. Bisakan Bu?”
Beliau hanya bisa mengangguk perlahan.
Tak lama, semua permintaanku dikabulkan. Tapi semuanya tetap harus pergi. Hingga akhirnya aku sendiri, bertemankan sebuah ponsel, buku, serta pena kesayanganku. Terdengar agak konyol memang, seorang remaja justru memilih ditemani oleh buku karangan sementara waktu hidupnya hanya tersisa satu minggu lagi. Namun permintaanku bukannya tanpa alasan, aku hanya tak ingin di sisa hidupku ini masih saja merasa bersalah pada Nada. Aku ingin meminta maaf padanya yang telah kubuat kecewa. Aku sadar, aku takkan bisa mati tenang jika Nada masih belum memaafkanku.
Berkali-kali sudah kucoba untuk menghubungi ponselnya, berkali-kali juga kukirimkan sms untuknya. Namun tetap saja, tak ada jawaban sedikitpun. Untunglah aku meminta kepada Ibu buku serta pena. Jadi aku bisa menulis surat untuknya.
Jarum jam terus berputar. Detik demi detik, menit demi menit, kulewati hanya dengan menulis dan menulis. Hingga akhirnya surat ini pun terlahir. Betapa senangnya hatiku, mendapatkan sedikit harapan kepada Nada untuk membaca suratku. Dengan semangat yang bangkit oleh secercah harapan, segera kutelpon handphone milik Tanti. Aku ingin menyuruhnya untuk mengantarkan Ibu ke rumah Nada esok hari.
“Halo, ada apa kak?” suara adikku membuka percakapan.
“Dik, kakak mau minta tolong besok kamu antar Ibu kerumah kak Nada ya? Kakak mau nitip surat nih. Tahu kan?”
“Iya kak, aku tahu kok”
“Mana Ibu? Aku mau ngomong sebentar”
“Iya, halo ada apa nak?” terdengar suara Ibu yang lembut nan ramah menjawab telpon dariku.
Belum sempat kusampaikan maksudku yang sebenarnya, mataku dibuat terbelalak ketika melihat 2 sosok yang cukup asing bagiku. Mereka berpenampilan cukup aneh. Dengan pakaian serba putih, serta wajah yang bersinar cukup menyilaukan. Dengan posturnya yang tinggi besar, aku yakin bahwa sosok itu bukanlah manusia. Apalagi manusia Indonesia, yang umumnya memiliki postur badan pendek dan kulit sawo matang.
“Ya Allah, Inikah utusan-Mu yang akan mengambil nyawaku?” gumamku dalam hati.
Belum lama aku terkejut, tiba-tiba terdengar suara Ibu dari telepon yang sedari tadi masih tersambung.
“Halo, nak? Kok diam saja?” tanya Ibu.
“Aaarrrggghhh!!!” jeritku ketika merasakan rasa sakit yang amat sangat.
Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan ketika pingsan beberapa hari yang lalu, kini terasa kembali. Namun kali ini terasa ada yang berbeda. Selain rasa sakit yang lebih hebat, mati rasa yang kualami dibagian kaki membuatku semakin takut. Ditambah dengan 2 sosok misterius yang terus menatapku dari balik pintu, membuatku yakin bahwa memang sampai disinilah ajalku.
“Haa, loo! I..buu? Ibb, bbu ma, ssih di, ssana kan?” suaraku terbata-bata.
“Iya nak ada apa?” suara Ibu terdengar cemas.
“A, a, aakkkuu ttii, tiipp suu, raattku untuk Nad, ddaa ya. Sam, pa, ikan ma, affkkuu padanya ka, rreennaa tellah memm, buat, dii, a kec, kecc, eewaa.” Suaraku semakin terbata-bata.
“Iya Nak. Pasti, pasti akan Ibu sampaikan.” Suara Ibu terdengar bercampur tangis.
“Ibb, uu jagg, ggaa Tan, tti y, aa? Se, sel, lammatt ting, ggaa, ll”
“Kamu ngomong apa sih nak? Jangan bikin Ibu semakin cemas” kata Ibu sedih.
“Assala, muuk, aa,laai, kumm” suaraku sudah terputus. Mata yang terasa amat berat serta nafas yang tersisa hitungan detik, menjadi detik-detik terakhir bagiku untuk menatap dunia ini. Masih dalam posisi terpejam, kurasakan tubuhku menjadi sangat ringan hingga bisa terbang. Baru beberapa detik mata ini terpejam, kini kulihat tubuhku telah terbujur kaku terbalut selimut. Mungkin ini yang dinamakan berbeda alam.
Kulihat beberapa sanak saudara telah bermandikan air mata di sekeliling jasadku. Termasuk Ayah dan Ibu. Derasnya cucuran air mata yang mengalir seakan belum merelakan kepergianku. Namun anehnya, sedari tadi belum kudapati sosok adikku. Aku tak mengerti kemana perginya ia. Tiba-tiba sesosok wanita memasuki rumah dan memeluk erat tubuhku. Aku tak tahu siapakah sebenarnya dia. Kerudung yang membungkus kepalanya, membuatku tak dapat melihat wajahnya. Yang kutahu, ia terlihat sangat kehilangan. Berulang kali ia memeluk dan menangis di atas jazadku. Lalu diikuti oleh satu perempuan lagi yang segera duduk di samping jazadku. Dan baru kuketahui bahwa mereka adalah Nada serta adikku.
Dengan perintah dari adikku, Nada membuka secarik kertas serta sebuah buku yang masih terlipat rapi di samping tubuhku. Digenggamnya tanganku yang mulai mendingin, dan diciumnya beberapa kali. Wajah Nada nampak amat sedih. Tak bisa ia tutupi lagi kesedihan yang amat mendalam tersebut. Dengan perlahan, dibukanya surat dariku. Dengan nafas yang sedikit tersengal tangis, ia baca perlahan surat serta ucapan terakhirku untuknya.
Untuk mantan kekasihku,
Nada
Nad, maafkan aku ya. Karena selama aku menjadi kekasihmu, aku tak bisa menjadi sosok yang kau inginkan. Aku tidak bisa menjadi kuat, bahkan hanya untuk melindungimu saja aku tak mampu. Maafkan aku, karena aku hanya bisa menjadi seorang penulis. Tapi hanya lewat tulisan inilah aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Bahwa, aku masih mencintaimu. Meskipun kutahu, kau terlalu istimewa bagiku. Dan kutahu juga bahwa saat kau membaca suratku ini, semuanya telah terlambat. Hari ini mungkin menjadi hari-hari terakhir dalam hidupku. Atau bahkan ini akan menjadi perpisahan terakhir kita. Meskipun kini kita bukanlah seorang kekasih lagi, tapi aku ingin kau menyimpan buku ini. Buku yang akan mengingatkanmu tentang perjalanan cinta kita yang terukir indah di dalamnya.
Cerpen yang mengisahkan perjalanan cinta kita mulai saat kita pertama bertemu, saat-saat kita menebar canda tawa, duduk berdua di cafe, bahkan sampai saat kita menikah dan hidup bahagia bersama kelak. Meskipun hidup bahagia bersamamu kini hanya bisa menjadi impian, namun aku tetap bahagia bisa bertemu dengan bidadariku. Aku ucapkan terima kasihku karena kamu telah menemaniku hingga di akhir hayatku ini. Dan aku juga berterima kasih karena kamu telah memaafkan kesalahanku. Kini aku dapat beristirahat dengan tenang. Selamat tinggal cintaku. I miss you.
Tertanda
M. Awan Bimantara
“Tidaaakkk!!!.. Bangun Awan!, bangun! Aku sudah disini, sekarang kamu bangun!!! Ini aku, Nada. Kekasihmu” suara Nada diiringi tangis terdengar sangat keras.
“Percuma Nad, ini sudah terlambat. Semoga Tuhan mempertemukan kita di alam yang lebih kekal.”
–END–
Cerpen Karangan: Sugeng Dwi
Facebook: Frank Kiberline
TTL: Blitar, 05 Okt 1997
Saya hanyalah pemula, jika ada kesalahan mohon kritiknya ke facebook saya. Terima kasih atas bantuannya. Ditunggu kritikannya (‘o’)7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar